wirausaha

Wirausaha Sukses Es Dawet

wirausaha

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 14
PoorBest 
Wirausaha Sukses Es Dawet - 4.2 out of 5 based on 14 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Wirausaha Sukses Es Dawet

 

Bermula dari gemar minuman dingin, tapi saat ini Citra Puspa Sari, 26 tahun sudah memiliki usaha yang menguntungkan. Tidak hanya di Indonesia, Es Dawet Cah Mbanjar produksinya sudah merambah pasar Singapura. Inilah sepanggal kisah Wirausaha Sukses Es Dawet.

 

Di Indonesia, Citra sudah memasarkan produksinya mulai dari wilayah barat, tengah hingga timur Indonesia. Minuman usaha keluarga ini kini bisa dirasakan seluruh masyarakat negeri ini. Di Singapura, Citra mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di Singapura Citra mengisi acara Asia Pasific Food Festival. Dalam waktu dekat, dia akan berangkat ke Thailand untuk mempromosikan minuman ini. Citra memulai usaha Es Dawet Cah Mbanjar pada 2006.

 

Dia tertarik mengembangkan bisnis ini karena senang minum satu jenis minuman yang sama tapi beda nama. Memang, minuman jenis ini cukup banyak di Medan. Penjual minuman yang menggunakan gerobak banyak dijumpai di pinggir pinggir jalan kota Medan. Kadang di emperan toko, tidak sedikit pula di bawah pohon rindang dan di persimpangan jalan. Sambil minum, dia suka bertanya - tanya kepada penjual mengorek informasi seputar minuman tersebut.

 

Hingga akhirnya dia bisa ketemu dengan bos pemilik es penjual dengan gerobak. ”Saya suka minum es. Karena sering, iseng - iseng ngobrol nanyain resep es dawet dan lainnya. Namun kata pekerjanya, harus menjumpai bos langsung. Setelah di cari tahu akhirnya bisa ketemu.” kata Citra kepada harian Seputar Indonesia. Sesudah mendapat resep dari pemilik es itu, Citra bersama suaminya, Hafiz Khairul Rijal, 32 tahun membeli bahan baku dengan modal Rp100.000.

 

Pada saat itu dia tidak mengenakan resep rahasia dari bos pemilik es. Untuk gerobaknya, dia memilih membuat sendiri dengan biaya Rp500.000. Bermodal Rp 600.000 itulah Citra memulai berjualan Es Dawet Cah Mbanjar. Kebetulan dia langsung mendapat lokasi dekat kampus. Jadi saat itu, penjualannya lumayan. Dalam satu hari,50 cup atau gelas Es Dawet Cah Mbanjar pasti laku terjual. Untung bersihnya Rp50.000 per hari. Waktu terus berlalu sampai tiga bulan berjalan.

 

Dari keuntungan yang diperoleh, Citra menambah gerobak. Tidak lama berselang, gerobak ketiga dibeli sekaligus mulai merekrut karyawan. ”Mulai jualan sendiri pada 2006. Terus berjalan sampai 2007 sudah bisa membeli gerobak kedua dan ketiga. Seluruhnya disebar tidak jauh dari lokasi berjualan yang pertama,” ujar ibu dari dua orang anak ini. Namun, meski telah memiliki tiga gerobak, dia masih tetap berhubungan dengan bos pemilik es yang pertama karena bumbu utama belum dimilikinya langsung.

 

Mendekati akhir tahun 2007, dia mencoba untuk membeli bumbu dan alat produksi dari bos pemilik es. Modalnya tidak sedikit. Uang sebesar Rp50 juta mesti disiapkan, tapi karena ingin berinovasi dia nekat meminjam uang orang tuanya. ”Separuh dari modal itu, pinjam dari orang tua. Kami berpikir sudah saatnya untuk berdiri sendiri. Jadi mudah untuk melakukan inovasi, tidak hanya membeli bahan dan tinggal ramu,”ujarnya. Dengan begitu dia dapat memiliki mesin adonan cendol, gula, dan kelapa sendiri. Bahan bakunya pun langsung didatangkan dari daerah Banjar.

 

Selain bumbu utama, Citra juga mendapat lima gerobak. Jadi total telah ada delapan gerobak yang dijadikannya modal untuk dijual kepada orang lain. Ingin melihat bagaimana peluang pasar yang lebih besar, Es Dawet Cah Mbanjar ini mulai diikutkannya pada pameran-pameran. Pertama kali, tepatnya 2007 ikut pameran Bank Sumut dalam rangka ulang tahun Bank Pembangunan Daerah (BPD) ini.

 

Tanpa diduga, Citra meraih penghargaan Bank Sumut Usaha Mikro Kecil (UMK) Award. Usaha Citra dinilai terbaik sebab punya tempat produksi dan manajemennya telah terbentuk, walaupun masih dalam skala home industry. ”Senang sekali. Selama proses pameran, kami ikut dalam audisi wirausaha muda Mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Jadi semakin bersemangat untuk mengembangkannya lebih luas,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini. Rezeki benar - benar berpihak.

 

Es Dawet Cah Mbanjar terpilih menjadi juara 2 se-Sumatera. Penghargaan - penghargaan ini membuat suami istri ini mendapat kemudahan untuk mengembangkan usaha. Bagi yang berminat untuk memulai usaha ini diberi kredit oleh Bank Mandiri. Bank ini juga membantu proses pelatihan, perekrutan karyawan dan manajemen. ”Sistemnya seperti franchise, tapi kami menyebutnya kemitraan karena tidak ada ketentuan harus sama gerobaknya, jumlah karyawan atau gajinya." katanya.

 

Bahkan diperbolehkan beli bahan saja, tanpa gerobak dan tidak dapat resep utama,”papar Citra. Apabila ingin mendapat resep utama, tentu harus membeli rumah produksi sebesar Rp60 juta. Ini disebut dengan master. Saat ini, khusus di Medan dia menjadi pemilik brand Es Dawet Cah Mbanjar. Tidak sulit lagi memperoleh es dawet yang memiliki rasa manis ini pada pinggir jalan, warung atau restoran.

 

Total sudah 170 gerobak se-Indonesia sudah dijualnya. Khusus untuk Medan saja ada 40 gerobak. Kini pemasarannya hingga Makassar. ”Peluangnya masih besar di sini. Ini cocok untuk mulai berbisnis karena dipastikan untung Rp50.000 bisa didapat dalam satu hari,”katanya.

 

Jadi Pewaralaba Juga menguntungkan Karena Pasarnya Besar

 

Pengembangan sistem waralaba (franchise) Es Dawet Cah Mbanjar ternyata membuat beberapa investor tertarik. Konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat.

 

Sebut saja Reviza Putra Syarif, 26 tahun, ikut menjalani Peluang Usaha Es Dawet Cah Mbanjar. Bahkan,Reviza mengaku beruntung dapat menjadi pewaralaba karena keuntungannya tidak sedikit. Dalam satu bulan pertama, untung bersih yang dapat dibawanya pulang sebesar Rp 2,4 juta. ”Hasilnya lumayan. Dalam dua bulan, modal saya sudah kembali,” ujarnya saat harian Seputar Indonesia berkunjung ke tokonya di Jalan Wahid Hasyim No 1 E Medan.

 

Sebagai pewaralaba, Reviza mesti membeli gerobak dan peralatan lengkap Es Dawet Cah Mbanjar langsung dari pemilik waralaba dengan harga Rp4,5 juta. Untuk bahan minuman mulai cendol, santan dan gula setiap hari dia harus mengeluarkan biaya Rp70.000 per hari untuk 50 porsi setiap harinya. ”Sebagai pemilik waralaba mereka membina mitra. Waktu saya pilih lokasi ini, sempat diragukan kelangsungannya, tapi saya buktikan bisa dan Alhamdulillah sukses,” ujarnya. Reviza pun menjadi wirausaha sukses es dawet dari segi pewaralaba.

 

Kebulatan tekadnya ini sudah tampak sejak awal Reviza ingin membuka usaha ini. Setelah keluar dari tempat kerja sebelumnya pada salah satu bank milik pemerintah, Reviza memang punya keinginan untuk buka usaha, tapi keuntungannya besar dan cepat. Yang ada di benaknya adalah bisnis makanan. Survei pun dimulai. Setelah keliling sana-sini, Reviza akhirnya mengetahui bahwa untuk memulai usaha yang sama pakai sistem waralaba.

 

Bukan hanya waralaba es dawet, tapi dapat juga satu paket dengan bakso yang pernah dimakannya. ”Dua bulan pertama, saya ikut bekerja. Bahkan mesti berbelanja ke pasar pun saya tidak peduli. Itu bisa membuat kita lebih tahu harga di pasar dan dekat dengan pekerja,” ujar pria lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini. Kalau dihitung sekalian dengan paket, keuntungan yang diperolehnya mencapai lebih dari Rp10 juta. Itu bersih di bawa pulang ke rumah untuk keluarganya.

 

Sumber Refferensi
Seputar Indonesia
 

Kisah Sukses Wirausaha Jamur Kriuk

wirausaha

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 51
PoorBest 
Kisah Sukses Wirausaha Jamur Kriuk - 4.6 out of 5 based on 51 votes

Kisah Sukses Wirausaha Jamur Kriuk

 

Fatoni adalah seorang contoh wirausaha sukses yang menekuni bisnis jamur kriuk. Mungkin anda masih memandang sebelah tangan makanan yang satu ini. Namun, makanan Jamur kriuk ini mampu mendatangkan limpahan rupiah buat Fatoni. Sebelum sukses membangun bisnis waralaba Jamur Kriuk, Fatoni telah gagal membangun bisnis konstruksi dan penerbitan. Bahkan ia pernah merasakan pahitnya menjadi pengangguran walaupun sudah mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Tapi pintu sukses bagi Fatoni terbuka usai memperistri gadis idamannya, Lita Desita Permatasari.

Menjadi wirausaha sukses adalah cita-cita Fatoni. Pemilik CV Manggala Karya Abadi (MKA) di Purwokerto, Jawa Tengah, ini sejak kecil sudah mendambakan memiliki usaha yang bisa mempekerjakan orang lain.

Demi mengejar cita-cita ini, saat masih duduk di bangku SMA, Fatoni juga tak sungkan berjualan beras. Ketika itu, untuk melanjutkan sekolah, Fatoni harus indekos di Cilacap. Lantaran kiriman dari orangtua juga pas - pasan. Fatoni pun berjualan beras agar dapat membayar ongkos indekos. "Pelanggan saya adalah para tetangga kos," kata wirausaha waralaba Jamur Kriuk ini.

Tapi usaha itu tidaklah lama, Fatoni terpaksa gulung tikar karena ditipu teman kosnya sendiri hingga modal dagangnya pun melayang. "Berasnya diambil namun tidak dibayar," kenang Fatoni.

Namun pengalaman buruk itu justru semakin melecut pria kelahiran 4 April 1982 ini untuk mendalami ilmu berbisnis. Begitu lulus SMA, Toni melamutkan kuliah di Jakarta hingga meraih gelar magister manajemen.

Merasa ilmunya sudah mumpuni. Fatoni membuka , perusahaan patungan bidang konstruksi dan penerbitan bersama sahabatnya. Tapi sayang, usaha ini gagal. Saat itu Fatoni sempat meratapi kegagalannya itu.

Tapi ia juga tidak mau berlama-lama larut didalam kesedihan. Fatoni berusaha bangkit kembali dengan mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Tetapi Ibukota tak mampu memberi harapan masa depan untuk Fatoni. Ketika itu, Fatoni sempat melamar ke perusahaan otomotif dan perbankan, namun dua perusahaan itu tak memberinya kesempatan.

Gagal mencari pekerjaan di Jakarta, Fatoni pun terpaksa mudik ke rumah orangtuanya di Purwokerto. Di kampung, Fatoni juga tak memiliki pekerjaan tapi dia tetap percaya diri menikahi gadis impiannya, Lita Desita Permatasari. Walaupun tidak memiliki penghasilan tetap, jodoh saya ternyata datang," ujarnya, senang.

Dengan sang isteri, Fatoni pun memulai lembaran baru dalam hidupnya. Karena tidak memiliki pekerjaan, Fatoni sempat menemui kegagalan berbisnis konstruksidan penerbitan. Fatoni mengisi hari-harinya membantu usaha mertua berbisnis rumah makan.

Saat membantu bisnis keluarga istrinya itulah Fatoni mendapatkan inspirasi untuk berbisnis makanan. Apalagi mertua dan istrinya mahir memasak. Guna mewujudkan impian bisnisnya itu, Fatoni berusaha mencari informasi lengkap tentang peluang usaha makanan dari berbagai lileratur. Dari situlah, Fatoni menemukan konsep bisnis waralaba. "Konsep ini saya diskusikan dengan istri, temyata dia setuju," ujar Fatoni.

Setelah konsep bisnis selesai, Fatoni masih bingung, kira-kira makanan apa yang bisa dijual dan laris manis sehingga dengan gampang bisa diwaralabakan. "Kebetulan ketika itu isteri saya memasak jamur goreng dan rasanya enak. Saya pikir, inilah menu yang pas untuk usaha saya," cerita Fatoni, panjang lebar.

Fatoni mulai bereksperimen. Dia meminta sang isteri untuk membuat jamur goreng namun dengan aneka varian rasa. Dan temyata, jamur goreng dengan aneka rasa ini memang enak bila jamur digoreng kering dan garing renyah.

Lita Desita, isteri Fatoni, menambahkan, dia bersama suaminya tidak memerlukan waktu lama untuk mengeksekusi wirausaha jamur kriuk itu. Setelah konsepnya matang dan produknya sudah ada, kami langsung membuka usaha jamur ini," terang Lita

Temyata, perhitungan Fatoni benar, jamur goreng itu laris manis. Berkat pergaulan Fatoni yang luwes, para terwaralaba pun berdatangan. Mereka ingin berbisnis jamur goreng yang kemudian diberi nama Jamur Kriuk im

Dalam pandangan sang istri, Fatoni memang sosok yang mudah bergaul. Itulah sebabnya, dia tak kesulitan menjaring investor untuk mengembangkan bisnis. Namun, Lita juga menyadari kelemahan sang suami yang mudah percaya kepada orang lain. Ini sering disalahgunakan." kata lita

Lita menilai kesuksesan suaminya itu tidak lepas dari kerja keras mereka setelah hidup bersama "Sebagai kepala keluarga, dia tidak mau ambil keputusan sendiri, tapi selalu lewat diskusi dulu," ungkap Lita

 

 

Sumber: Harian Kontan
   

Page 6 of 8

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>