Budidaya Temulawak

pelatihan pertanian

User Rating: / 6
PoorBest 
Budidaya Temulawak - 5.0 out of 5 based on 6 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Budidaya Temulawak

budidaya Temulawak
Curcuma xantorrhiza atau lebih kita kenal sebagai nama Temulawak adalah tanaman obat yang di kenal juga dengan beberapa nama. Di daerah Jawa Barat dinamai Koneng Gede, di Madura disebut Temu Lobak. Tanaman temulawak biasa tumbuh secara liar di hutan-hutan, tegalan sawah dan ditanam di kebun-kebun atau pekarangan rumah sebagai tanaman obat. Dalam skala luas, tanaman Temulawak di tanam dalam sebuah budidaya temulawak.


Umbi Temulawak dikenal sebagai obat, sedangkan akarnya yang tua mengandung minyak yang bisa dijadikan minyak asiri, cabang akarnya yang masih muda bisa digunakan sebagai makanan anak-anak yang mudah dicerna. Temulawak memiliki khasiat untuk memelihara kesehatan hati, mengatasi Hepatitis, Sakit Kuning, memperbaiki nafsu makan, mengatasi perut kembung dan Wasir.

Tanaman Temulawak termasuk dalam kelompok tanaman Terne berbatang semu yang tumbuh merumpun, habitusnya bisa mencapai 2m hingga 2,5m. Di setiap rumpun terdiri atas beberapa anakan (3-9), setiap tanaman mempunyai 2-9 helai daun. Daunnya  berbentuk panjang agak lebar, lamina serta ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun 50-55 cm, lebar ± 18 cm, tiap helai daun melekat  pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur, tanaman temulawak berbunga sepanjang tahun dengan warna kuning pangkal berwarna ungu, warna rimpang kuning dengan akar serabut.

 

Cara Menanam Temulawak

Syarat Tumbuh Budidaya Temulawak

Tanaman temulawak bisa tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh terlindung dan dari sinar matahari, tapi juga mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah tropis.

Suhu udara yang baik untuk budidaya temulawak antara 19-30°C.
Curah hujan yang diperlukan antara 1.000-4.000 mm/tahun.

Media tanam budidaya temulawak

Perakaran temulawak bisa beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah. Namun supaya memproduksi rimpang yang optimal diperlukan tanah yang subur, gembur, drainase baik. Tanah liat berpasir yang paling ideal untuk budidaya tanaman temulawak. Pemberian pupuk organik dan anorganik diperlukan guna memberi unsur hara yang cukup.

Ketinggian Tempat Budidaya

Tumbuhan temulawak bisa tumbuh pada ketinggian tempat 5 hingga 1.000 m dpl, ketinggian optimum 750 m dpl, kandungan pati tertinggi di dalam rimpang diperoleh pada tanaman dengan ketinggian 240 m dpl.

Pembibitan Tumbuhan Temulawak

Pembibitan tumbuhan temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik rimpang induk maupun rimpang anakan. Keperluan rimpang induk sekitar 1.500- 2.000 kg/Ha dan rimpang anakan 500-700 kg/Ha. Rimpang untuk bibit temulawak diambil dari tanaman tua yang sehat umur 10-12 bulan.

Cara menyiapkan rimpang temulawak untuk bibit

Untuk rimpang induk dibelah menjadi 4 bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari, sesudah itu ditanam. Sedangkan rimpang anak yang baru diambil, simpan di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan hingga keluar tunas baru, atau rimpang cabang ditimbun tanah disiram rutin pagi dan sore sampai keluar tunas baru segera dipotong dengan mata tunas 2-3 mata tunas. Bibit dari rimpang induk lebih bagus dari pada rimpang anak.

Pengolahan Media Tanam Bertani Temulawak

Pengolahan media tanam dilakukan sebaiknya 30 hari sebelum masa tanam, lahan dibersihkan dari gulma dan dicangkul sedalam 30 cm, dibuat bedengan lebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm, Di atas bedengan dibuat lubang tanam ukuran 30 x 30 x 60 cm diberi pupuk kandang 1-2 kg/lubang, SP-36 100kg/Ha dengan jarak tanam dan kedalaman 60 x 60 cm.

Teknik Penanaman Teulawak

Penanaman temulawak dilakukan pada awal musim hujan. Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang dengan mata tunas menghadap ke atas, timbun dengan tanah sedalam 10 cm.

Pemeliharaan Tanaman

Penyulaman, tanaman yang mati atau rusak diganti oleh bibit yang sehat.

Penyiangan, dilakukan pada waktu pagi dan sore untuk membuang rumput liar, dilakukan pada 2 bulan dan 4 bulan sesudah tanam bersamaan dengan pemupukan. Pengairan, dilakukan pada fase awal pertumbuhan, dengan cara dileb atau disiram menggunakan alat, berikutnya tergantung kondisi tanah dan cuaca.

Pembumbunan, dilakukan secara rutin setelah pemupukan.

Pemupukan susulan I diberikan ketika tanaman berumur 2 bulan dengan pupuk kandang 0,5 kg/tanaman atau sekitar 10 ton/hektar, pupuk urea 95 kg/Ha dan KCL dosis masing-masing 40 kg/Ha disebarkan merata dalam jarak 20 cm dari pangkal batang  tanaman  lalu ditutup  dengan  tanah.

Pemulsaan, dengan jerami dilakukan awal musim  tanam.

Hama Dan Penyakit Pada Temulawak

Hama yang biasa menyerang pada tumbuhan temulawak diantaranya :

1.  Ulat jengkal (Chrysodeixism chalcites esp.)
2.  Ulat tanah (Agrotisypsilon hufn.) dan
3.  Latar rimpang (Mimegrala coerulenfrons macquart).

Untuk pengendalian bisa menggunakan pestisida alami yang ramah lingkungan.

Penyakit Yang sering menyerang pada budidaya temulawak diantaranya:

1. Jamur Fusarium

Penyebab:
F. oxysporum schlecht dan Phytium sp. serta bakteri Pseudomonas sp. Menyerang perakaran dan rimpang di kebun atau sesudah panen.

Gejala:
Fusarium menyebabkan busuk pada akar rimpang dengan gejala daun menguning, layu, pucuk mengering serta tanaman mati. Akar rimpang menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman bagian tengah membusuk. Jamur Phytium sp. menyebabkan daun menguning, pangkal batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat  serta keseluruhan tanaman menjadi busuk.

Pengendalian:
Melakukan bergiliran tanaman yaitu sesudah panen tidak menanam tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae.

2. Penyakit Layu

Penyebab: Pseudomonas sp.

Gejala:
Menguningnya daun, pangkal batang basah serta rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir.

Pengendalian:
Dengan penggiliran tanaman.

Gulma

Gulma kebun antara lain : rumput teki, alang-alang, ageratum dan gulma berdaun lebar lainnya.

Pemanenan budidaya Temulawak
Rimpang temulawak
Rimpang temulawak sudah bisa dipanen setelah berumur 9-10 bulan. Dengan ciri mempunyai daun-daun dan bagian tanaman yang sudah menguning dan mengering, mempunyai rimpang besar serta berwarna kuning kecoklatan. Pemanenan budidaya temulawak dilakukan dengan cara tanah di sekitar rumpun diangkat bersama akar dan rimpang.


Refferensi :
Dinas Pertanian Jawa Barat


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel

Akses ditolak!
Silahkan Login atau Register Untuk berkomentar!