Industri Besar

Usaha Pengayakan Pasir Teras

Industri Besar

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 2
PoorBest 
Usaha Pengayakan Pasir Teras - 5.0 out of 5 based on 2 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Usaha Pengayakan Pasir Teras

Usaha Pengayakan Pasir Teras
Usaha Pengayakan Pasir Teras mulai banyak di lakukan untuk memenuhi kebutuhan proyek pembangunan, terutama di gunakan dalam pembuatan jalan raya. Pasir teras di dapat dari penambangan pasir teras dari sebuah gunung langsung, pasir teras tersebut kemudian di ayak, dicuci dan di saring menjadi pasir siap pakai.

Untuk membuat usaha pasir teras diperlukan sebuah mesin pengayakan pasir teras untuk membantu proses pengayakan pasir teras tersebut. Mesin ini akan berfungsi untuk menghancurkan tanah gunung pasir teras, mengayak, membersihkan dan menyaring pasir teras tersebut hingga di dapat pasir teras siap pakai

Mesin Pengayak Pasir

Mesin pengayak pasir teras yang digunakan umumnya lebih sederhana di bandingkan dengan mesin penggilingan pasir / mesin penghancur pasir, ini di sebabkan tanah teras yang di giling memang tidak terlalu keras. Mesin pengayak pasir biasanya dilengkapi dengan  Vibrating Screener + Belt Conveyor + Diesel Genset + Roda Pemindahan Lokasi Pengayakan, sehingga mesin pengayak pasir ini bisa disesuaikan untuk lokasi penambangan pasir yang jauh dari sumber listrik PLN dan memudahkan bagi pemindahan lokasi penambangan pasir.

 

Perkebunan Sawit

Industri Besar

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 1
PoorBest 
Perkebunan Sawit - 3.0 out of 5 based on 1 vote

Perkebunan Sawit di Indonesia

Kelapa Sawit

Sejarah perkembangan perkebunan sawit di Indonesia bermula dari Gubernur Raffles. Tanaman sawit awalnya didatangkan oleh Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stanford Raffles dan saat ini menjadi komoditi andalan Indonesia, khususnya wilayah Sumatera. Tanaman asal Afrika Selatan itu dibawa ke Kebun Raya Bogor pada tahun 1848. Tanaman palma ini kemudian dikenal luas dengan nama kelapa sawit -Elaeis guineensis-. Dari biji buah tanaman sawit itu kemudian pada tahun 1911 di pantai timur Sumatera Utara dikembangkan perkebunan sawit pertama di Sumatera.

 

Di tahun 1915 pengusaha asal Inggris telah mengusahakan industri besar perkebunan - perkebunan sawit berskala kecil di wilayah sumatera, mereka membuka sebuah perkebunan sawit pertama kali seluas 2.715 hektar. Perkebunan ini kemudian semakin berkembang menjadi lebih dari 100.000 hektar pada tahun 1939. Pada masa tahun tersebut, kehebatan sawit Sumatera Utara telah banyak terdengar hingga ke manca negara, saat itu banyak pengusaha asal Inggris yang datang ke Sumatera dan tertarik untuk membudidayakan sawit.  Pada tahun 1968 luasan kebun kelapa sawit semakin bertambah besar 119.600 hektar. Pada tahun 1978 luasan itu berkembang menjadi 250.116 hektar. Kemudian, sejak tahun 1979 hingga tahun 1997 laju pertambahan areal kelapa sawit mencapai rata-rata 150.000 hektar pertahun. Era ini, total luas areal perkebunan sawit di Indonesia telah jauh berkembang hingga lebih dari empat juta hektar.

 

Hal ini tentu saja mempengaruhi tingkat produksi yang juga terus berkembang. Pada periode tahun 1979 hingga tahun 1991 laju produksi rata-rata per tahun mencapai sekitar 230.000 ton. Sementara itu, laju pertumbuhan pada periode tahun 1992 hingga 1997 meningkat hingga 420.000 ton per tahun. Pada masa itu produksi sawit Indonesia mencapai lebih dari 5 juta ton per tahun. Berdasarkan data dari sebuah simposium, diketahui bahwa kualitas dan perdagangan produksi minyak sawit mentah yang diadakan di Kuala Lumpur tahun 1968, tercatat produksi minyak sawit mentah Indonesia baru mencapai 190.000 ton, sedangkan Malaysia telah mampu memproduksi sekitar 370.000 ton minyak sawit mentah.

 

Lalu 33 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2001, produksi minyak sawit Malaysia melonjak drastis menjadi 11 juta ton, sedangkan Indonesia juga meningkat menjadi 8 juta ton lebih. Sekitar 5 juta ton dari produksi CPO Indonesia itu di lepar ke pasar ekspor, yakni ke India, Cina, dan Thailand. Dari total produksi nasional yang mencapai 8 juta ton CPO tersebut, Sumatera memiliki kontribusi produksi lebih dari 6,9 juta ton CPO per tahun. Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu penghasil utama komoditi kelapa sawit dengan areal perkebunan di Sumatera Utara tahun 2002, seluas lebih dari 650 ribu hektar, total produksi mencapai 2,6 juta ton.

 

Pasar Internasional Minyak Nabati Dunia dan Prospek CPO

 

Konsumsi minyak nabati dunia dalam tahun tahun terakhir mengalami pertumbuhan pesat dengan laju peningkatan rata-rata 4.6 persen per tahun. Konsumsi minyak nabati dunia pada tahun 1995 masih sekitar 92,4 juta ton, tahun 1997 mencapai 100,3 juta ton, di tahun 2000 sudah mencapai 113,8 juta ton. Di tahun 2002 konsumsi dunia ini bahkan sudah memasuki angka 121,3 juta ton.  Dari 17 jenis minyak nabati yang tercatat, ternyata hanya 4 jenis yang mendominasi yaitu; minyak kedelai, minyak sawit, minyak lobak dan minyak bunga matahari.

 

Kasus ini ditulis oleh M.Chehafudin dari Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam(ARuPA) Yogyakarta, di bawah bimbingan Ahmad D.Habir,Ph.D, Dekan Fakultas Manajemen-Swiss German University, sebagai bagian dari program Promoting Leadership for Integrated Development yang didukung oleh Ford Foundation Indonesia. Semua materi yang terkandung di dalam artikel ini dipersiapkan semata-mata hanya untuk tujuan pembelajaran. Kasus ini tidak dimaksudkan atau dirancang sebagai gambaran yang menunjukkan sebuah praktek yang benar atau salah.